Yuk Mengenal Suku Asmat & Tradisi Seni Ukirnya yang Terkenal di Dunia 5/5 (2)

by
Foto ; Kapabar
banner265149 Iklan

Manokwari | Papua Barat | Okebozz.Com | JSCgroupmedia — Bagi Suku Asmat, tradisi mengukir, menganyam, menyanyi dan menari merupakan kehidupan mereka. Bagi yang tidak memiliki ketrampilan tersebut berarti mati.

Suku Asmat percaya bahwa pengetahuan dan keahlian mengukir mereka berasal dari nenek moyang yang bernama Fumiripitsy, seorang ahli ukir. Fumiripitsy telah menciptakan sebuah tifa yang indah sekali, ia beri nama Eme serta patung-patung yang diberi nama Mbis.

Apabila tifa ini ditabuh, maka patung Mbis akan menjelma menjadi manusia yang menari mengikuti bunyi tifa. Fumiripitsy berkata kepada Mbis, mulai saat itu Mbis menjadi anak-anaknya. Dalam budaya tradisionalnya, Suku Asmat tidak mengenal pahat dari logam untuk mengukir. Mereka menggunakan pahat yang terbuat dari tulang kasuari.

Suku Asmat mulai mengenal besi ketika ekspedisi Lorentz tahun 1907 melewati sungai-sungai di sekitar Asmat dalam upaya mencapai puncak bersalju Jayawijaya. Mereka melakukan kontak dengan Suku Asmat dan melakukan barter pisau besi, kapak besi, kaleng makanan dengan produk-produk seni pahat Asmat yang istimewa.

Rupanya benda besi, barang baru bagi Suku Asmat, menjadi benda yang tidak puas-puasnya digemari oleh mereka. Apalagi mereka merasa bahwa dengan benda-benda besi tersebut, dalam proses mengukir kayu menjadi mudah, jika dibandingkan dengan menggunakan pahat tulang kasuari.

Kegemaran pada benda besi ini, pernah diberitakan dalam surat kabar Belanda pada 1930, menyebutkan bahwa suatu armada orang-orang Asmat yang bersenjata busur, panah, dan tombak menyerang sebuah kampung di perbatasan Mimika.

Mereka mengobrak-abrik bangku-bangku sekolah milik gereja, hanya untuk mencopot paku-pakunya. Dengan paku-paku tersebut orang-orang Asmat hanya mengenal satu kegunaan yaitu untuk dijadikan pahat.

Seni Suku Asmat terkenal memiliki tradisi seni ukir yang khas dan terkenal sampai ke mancanegara. Bahkan seniman terkenal Eropa, Pablo Picasso, pada masa hidupnya mengagumi seni ukir ini. [ JSCgroupmedia | Kapabar | *** ]

Alat Musik Tradisional Papua Lengkap Sejarahnya

Manokwari | Papua Barat | Okebozz.Com | JSCgroupmedia — Papua terkenal akan aneka budayanya, termasuk kekayaan alat musik. Ada berbagai jenis alat musik tradisional Papua yang menawan dan memiliki sejarah musik tradisional mendalam dibaliknya.

Alat musik di Papua biasa digunakan untuk mengiringi acara adat maupun pesta. Setiap alat musiknya menghasilkan bunyi yang indah serta berbeda satu sama lain.

Berikut daftar alat musik tradisional Papua:

1. Tifa Tifa merupakan salah satu alat musik tradisional Papua yang dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh. Berbeda dengan yang berasal dari Maluku, alat musik dari Papua ini biasanya lebih panjang dan memiliki pegangan di salah satu bagian alat musiknya.

Sedangkan, tifa dari Maluku memiliki ukuran yang melebar dan tidak terdapat pegangan di sisinya. Bahan yang digunakan juga berasal dari kayu paling kuat biasanya jenis kayu Lenggua dengan kulit binatang sebagai membran bagian atas.

Kulit binatang tersebut diikat dengan rotan secara melingkar sehingga kencang dan bisa menghasilkan suara yang indah. Selain itu, pada bagian tubuh alat musik terdapat ukiran khas Papua.

Tifa biasanya digunakan untuk mengiringi acara penyambutan tamu, pesta adat, tari-tarian, seperti Perang, Asmat, dan Gatsi. Besar kecilnya suara yang keluar dari tifa tergantung dari ukuran alat musiknya.

Seperti dikutip dari buku Inventarisasi Warisan Budaya Tak Benda yang ditulis Agapitus E. Dumatubun dkk, selain sebagai alat pengiring tarian, tifa juga mempunyai makna sosial berdasarkan fungsi dan bentuk hiasan ukiran pada badan tifa tersebut.

Seperti pada suku Malin Anim, untuk setiap klan mempunyai bentuk dan motif serta nama tersendiri untuk masing-masing tifa. Demikian pula dengan suku Biak, Waropen. Ukiran-ukiran serta motif yang ada pada tifa itu menunjukkan status pemiliknya sebagai pakas anem atau masyarakat biasa.

2. Triton

Alat musik ini terbuat dari kulit kerang yang berada di pantai. Untuk mendapatkannya, kerang tersebut bisa ditemukan di seluruh pantai di Papua, terutama daerah Biak, Yapen, Nabire, Waropen, dan Wondama.

Sebelum menjadi alat musik, triton awalnya digunakan sebagai alat panggil dan pemberi tanda. Untuk memakainya, pengguna hanya cukup untuk meniup satu sisi kulit kerang.

3. Pikon

Alat musik Pikon biasa digunakan oleh kaum pria dari suku Dani Papua. Pikon sendiri memiliki bentuk bulat lonjong dan terbuat dari sebilah bambu yang sangat kecil.

Pada bagian tengah alat, terdapat seutas tali yang dipasang kencang dan terikat pada sepotong lidi penggetar. Untuk memainkannya, cukup menarik lidi bagian pangkal sehingga potongan penggetar akan bergetar dan menghasilkan suara.

4. Krombi

Krombi adalah alat musik bambu dari Papua. Sesuai dengan arti di balik namanya, cara memainkan alat musik ini adalah dengan cara dipetik sehingga menghasilkan suara yang indah.

Alat musik ini digunakan bersamaan dengan Fuu hingga Tifa sebagai hiburan, pengiring upacara adat maupun untuk keagamaan.

5. Fuu

Alat musik tradisional Papua yang terakhir adalah Fuu yang terbuat dari kayu atau bambu. Biasanya, Fuu digunakan bersamaan dengan alat musik lain, seperti tifa dan menjadi satu paduan yang harmonis.

Cara menggunakan Fuu adalah dengan cara meniup bagian yang terbuka atau berlubang. Alat musik tradisional Papua ini digunakan untuk memanggil penduduk maupun untuk mengiringi tarian khas suku Asmat. [ JSCgroupmedia | Kapabar | *** ]

banner265149 Iklan

Please rate this

 

One thought on “Yuk Mengenal Suku Asmat & Tradisi Seni Ukirnya yang Terkenal di Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[sliders_pack id="4755"]