Mengerikan! “Hijau Diluar Merah Didalam”, Beda Data Pemerintah Pusat dan Daerah Capai 19.000 Kasus 5/5 (2)

by
Foto udara warga berziarah di dekat pusara keluarganya di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (15/7/2021)
banner265149 Iklan

Okebozz.Com | JSCgroupmedia — Data dari KawalCovid-19 mengungkap laporan kematian Covid-19 pemerintah pusat lebih sedikit dibandingkan pemerintah daerah, sejauh ini terdapat selisih hingga 19.000 kasus.

Silang sengkarut data Covid-19 dari daerah hingga pusat disebut LaporCovid akan membuat persepsi risiko masyarakat “keliru” terhadap bahaya dari virus corona.

Kementerian Kesehatan tak menampik adanya perbedaan data, tapi mengatakan terdapat data yang tidak dilaporkan pemerintah daerah namun ditampilkan di situs masing-masing daerah.

Putri – bukan nama sebenarnya – masih dalam masa berkabung. Bapak mertuanya, 64 tahun, meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Malang, Jawa Timur pukul 20.00 WIB, pada 18 Juli 2021.

Selama tiga hari berjuang melawan virus corona, akhirnya mertua Putri menghembuskan napas terakhir. Selama dirawat di rumah sakit, mediang tak mendapat perawatan dengan ventilator, karena RS tak punya.

“Drop, saturasi menurun. 18 Juli 2021 malam, bapak sudah tidak ada. Pemulasaraan jam 3 dini hari,” kata Putri kepada jurnalis Eko Widianto yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Satu hari setelahnya, Mertua Putri baru dimakamkan dengan protokol kesehatan Covid-19, itu pun setelah melalui antrean panjang. “Satu hari antreannya bisa banyak begitu,” katanya.

Simpang siur data Covid-19

Pada hari itu, nama mertua Putri masuk ke dalam daftar 19 orang yang meninggal karena Covid-19 dan diduga kuat terpapar virus yang berasal dari Wuhan, China, demikan laporan UPT Pengelolaan Pemakaman Umum.

“Sejak Juli, [kami] memakamkan rata-rata 30 jenazah [per hari]. Pernah sehari kemarin memakamkan 55 jenazah. Rata-rata 80 persen positif Covid,” kata Kepala UPT Penggelolaan Pemakaman Umum, Dinas Lingkungan Hidup, Taqruni Akbar.

Namun, jumlah kematian ini tidak dilaporakan dalam pendataan Satgas Covid Kota Malang. Data yang ditampilkan Satgas setempat sejak tanggal 18-20 Juli 2021, adalah nol kematian.

Taqruni Akbar menjelaskan terjadi ledakan kematian sejak dua pekan terakhir. Pihaknya bahkan sampai merekrut delapan relawan untuk pemakaman yang bekerja sejak pukul 10 pagi hingga 10 malam.

Wali Kota Malang, Sutiaji, membantah terjadi simpang siur data Covid-19. Menurutnya, data di kondisi lapangan dengan NAR (New All Records) jelas tak sama. “Kita di lapangan sudah bergerak di NAR belum terverifikasi, jelas gak podo [tak sama],” sanggahnya.

Sutiaji juga membantah menutup-nutupi jumlah kematian dan bertindak untuk kepentingan politis. “Gak ono sing politis [Tak ada yang politis], tidak ada manipulasi data itu. Buktikan kalau manipulasi. Data itu, data yang di-update bukan…. jadi masuk data yang di NAR. Kok politis. Sopo sing ngomong politis? [Siapa yang bilang politis?],” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan, Husnul Muarif ikut menimpali. Kata dia, Satgas Covid-19 Kota Malang hanya mencatat kasus kematian bagi yang dalam perawatan di rumah sakit dan terkonfirmasi melalui uji usap atau swab test PCR.

banner265149 Iklan

Please rate this

 

One thought on “Mengerikan! “Hijau Diluar Merah Didalam”, Beda Data Pemerintah Pusat dan Daerah Capai 19.000 Kasus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[sliders_pack id="4755"]